Share !

Malam Di Pukul 10 Malamku


Awal cerita memang bukan dari sini dan tampaknya sudah aku lupakan beberapa menit sesaat setelah terjaga, tapi ‘wanita ikal berambut panjang’ lah, ya itulah fokusku pada saat itu. Rahasiaku selalu ku jaga dan segera ku mengenda-endap ke atas gedung yang semakin jauh aku memulainya semakin naik ke bagian atas gedung yang padahal aku takuti. Aku kemudian melompat turun dan terus mengikuti jejak langkah wanita itu dan menerobos barisan orang di keramaian dalam jalan jalan tikus gelap yang tertanam di antara muka muka gedung. Gelap sekali di balik bayangan gedung gedung dan di seberangnya ada gedung lagi, jalan jalan penuh pohon yang tak terlalu rimbun mengantarkanku makin dekat dengan wanita itu, mengantarkanku sampai dengan jelas melihat wajahnya yang indah dengan memakai baju yang tak terlalu jelas terlihat, sepertinya warnanya ungu-biru atau mungkin merah-mati kebiruan, ya benar! aku seperti pernah melihat sebelumnya dengan baju yang sama. Sebenarnya memang aku sudah menanti kedatangannya di persilangan jalan itu. Aku menunggu di bawah pohon yang paling rindang di antara pohon lain di situ di latar itu, tepat di sisi kiri jalan besar, dan di sisi kirinya lagi ada bin besar kotak hijau tua yang kosong yang sebenarnya tidak terlalu bau karena tak terisi apa-apa dan kebetulan juga ada taman bunga kecil yang merona mengelilinginya, tapi tetap saja berwarna gelap-kusam dan karatan. Aku menunggu dengan tangan kiri bersandar di sisi kanan pohon tadi dan tangan kanan menyilang ke pinggul, karena aku tahu ini pasti akan terasa lama sampai tangan tangan tadi lengser dari tungkuannya karena lelah. Di sini aku tak mendengar suara apapun kecuali suara dari dalam hati sendiri atau angin angin yang berbisik di samping telinga, padahal di balik cerita ini keramaian selalu memenuhi isi latarnya. Yak. Tepat setelah tangan tangan itu mulai lelah, wanita itu kemudian datang dengan membawa tas tangan atau mungkin itu hanya dompet atau sepotong kantong berwarna hitam yang digengamnya.



Lama menelusuri peta yang tak jelas, seiring mengikuti jejak langkah wanita itu yang terkadang hilang dan ku temukan lagi, aku mulai merasa wanita itu adalah clue, dan dari situlah aku tahu aku harus kembali berpetualang sampai memanjat gedung sekalipun, lalu turun kembali dengan lelahnya. Aku terus mengikutinya sampai ke ujung jalan tepat di depan stan jajanan pinggiran yang berada di depan ruko tua yang berandanyapun kering hanya ada satu pohon. Dan gawat, wanita tadi kemudian menoleh ke arahku, lama. Ya wanita itu memang kenal aku dan ingin rasanya aku membunuh rasa malu ini, aku ingin sekali pergi dari hadapannya dan menghapus jejak jejak bodoh ini. Hey, Ray, kurasa kau memang benar benar belum terbangun dari mimpimu ya? lalu harus kah kau bodoh menerima hal yang lebih bodoh lagi akan datang kembali menghampirimu? Yak, jelas tak ingin aku tertahan saja pada langkahku yang beku, hanya karena sebuah rahasia terbongkar? Kurasa tidak. Hentikan mimpimu Ray dan menghampirinya. Ya benar, kenapa tidak kau hampiri saja wanita itu sekalian sebelum kau menyesal melewatkannya Ray? Tidak, aku tak akan menghentikan mimpi ini dan akan terus terjaga dalam mimpiku sendiri (hening dan kembali hidup) Ya tapi tentu aku akan tetap menghampirinya. Sampai langkah langkah yang awalnya tadi berpacu di atas bayangan saja, kini akan lebih baik saat langkah langkahku tadi perlahan mendekati wanita itu. Hey, akan apa aku setelah ini? Ikuti apa kataku saja. Ya! kata hatimu ini Ray, yang telah susah payah mengantarkanmu jauh ke sini, aku tahu kau tersiksa di luar sana kan? Jadi inilah kesempatanmu. Ya tapi tidak seharusnya hati ini bersusah payah sampai tersiksa hanya karena hal seperti ini. Ya tapi aku akan pergi dengan haru menghampiri wanita itu, bukan hanya bersama rasa haru, tapi sebagian keberanian yang telah lama terpendam. Tinggi badannya, rambutnya yang panjang, dan wajahnya yang manis, ini benar benar nyata dalam kenyataanku, ini benar benar wanita itu! Ya, apalagi saat ku dengar suaranya yang hebat saat Ia menyapaku ‘heran’ dengan kata ‘hay’. Dari bertemunya aku dan wanita itu, dan sampai waktu yang lama mengantarkan kami berdua jauh ke jalan yang indah, melewati lembaran demi lembaran jalan yang warnanya klasik dengan suaranya, suaraku dan suara hatiku dan juga suara sepi tadi yang meramaikan mimpi ini. Sesaat sebelum ku hampiri wanita itu, sepertinya ku lihat Ia dengan mimik wajah yang ragu. Ya, sepertinya Ia telah lama menunggu di depan stan itu, menunggu sesuatu yang telah lama Ia inginkan tapi tak juga datang. Terlalu lama hingga Ia terlalu lelah menunggu, lalu kami utarakan satu sama lain di antara duduk berdua kami dan aku jatuh hati padanya. Aku mendengarkannya dengan perasaan iba, lalu Ia bilang padaku bahwa hari ini Ia terlalu lelah menunggu dan hampir tertidur, Ia sudah mengantuk dan ingin tertidur. Ya, Ia lelah dan tertidur di atas pahaku. Aku kasihan padanya lalu kubelai rambut rambut panjangnya itu sampai terasa nyata di telapak tanganku, terus dan terus dari kepala sampai ujung rambutnya, sampai Ia masuk ke dalam alam mimpinya dan melupakan kesedihannya. Ku belai Ia dari seperti seorang Ayah yang membelai Istrinya dengan rasa sayang. Aku masih terus membelai helaian demi helaian rambutnya sampai mimpi ini usai dan aku harus kembali terjaga bersama kenyataanku yang lebih sulit dijalani daripada sebuah mimpi yang indah.

Ya ternyata hari itu aku benar benar bermimpi, bermimpi dalam tidurku tentang mimpi mimpi yang benar benar aku impikan. Mimpi itu datang di malam setelah rentetan rentetan kejadian aneh, kejadian yang selalu datang di setiap malam, saat hati ini tak tahan lagi menahan kesepian, ya! itu dimulai dari setiap pukul 10 malam-ku, saat di mana suara kosong mengisi jalan tikus di depan rumahku, tepat di depan kamarku. Entahlah tak jelas apa apanya perasaan ini, tak jelas titik bayangannya asalnya darimana, aku juga sudah muak dan tak kuat lagi saat seluruh tubuh terasa dingin dan kepala terombang-ambing memusatkan fikiran yang tak jelas adanya, saat jantung ini mulai merasa gelisah seperti ada yang ditakutinya, takut akan kehilangan sesuatu, sesuatu yang mungkin tak akan pernah bisa terwujud. Aku benar benar tersiksa dan mencoba menahan sakitnya, itulah sebabnya mengapa aku ingin cepat cepat tidur dan pergi ke alam mimpi, di sana kita dapat bermimpi sepuasnya dan berangan angan dengan mimpi-mimpi itu yang tak terbendung lagi dengan otak yang waras, lalu kau akan bertemu hari baru setelahnya, hari baru dimana saat kau harapkan di malam hari tadi bahwa akan lebih baik dari siang ini, seperti mengharapkan sebuah titik cahaya di dalam lubang yang gelap yang tertutup oleh bayangan yang akan kembali cerah setelah ada cahaya baru yang mungkin akan sirna lagi seiring ‘malam pukul 10’ datang lagi. Mimpi itu masih terasa jelas di dalam dada, rasanya ingin terulang kembali kepada kenyataan dan mengasihinya lebih jauh lagi, lebih jauh dari sekedar membelai rambutnya yang indah, lebih jauh dari sekedar cinta. Hingga ‘malam pukul 10-ku’ kembali tenang dan indah seperti sebelum rasa ini hadir.

wrote by rayvicky on February 8, 2011

0 komentar:

Visitor Hit