Si Penjual Cerpen
(Pagi yang seperti biasa)
“Ky, bangun terlambat ini”, si Ibu menaruh jatah sarapan di atas meja
“iya iya, Bu”, aku terbangun dan melihat sekeliling kamar.
(beda lagi dengan Ayahku)
“ini duitnya ya, di atas meja” (menaruh di samping sarapan kami dan kembali ke kamarnya bersiap siap kerja)
Ini lah kejadian rutin yang dilakukan keluargaku. Aku Ray, aku kakak tertua dari 4 bersaudara, kami semua laki-laki. Adikku Atha yang terkecil baru 13 bulan minggu lalu. Keluargaku adalah keluarga yang sangat sederhana di perumahan yang ramai. Keluarga kami hanya menggantungkan hidupnya pada seseorang pria penderita diabetes, Ialah Ayahku, Ayahku yang lebih biasa kupanggil Bapak. Ayahku tak pernah lelah menafkahkanku dan adik-adikku. Kami semua bisa tersenyum bangga dengan orang sepertinya, di balik kelelahannya dan diabetes yang mulai menggerogotinya.
Senyum kami akhir-akhir ini sedikit memudar. Pagi-pagi yang biasanya cerah, kini tak seperti dulu lagi. Keributan justru mengotori kesucian kekeluargaan kami.
“sekarang gimana jadinya? Telpon kita yang dicabut atau anak gak ulangan?”
(ibu hanya menunduk dan diam mendengar teriakan itu)
“pak, kita buat surat perjanjian aja sama sekolah, biarin aja telpon yang dibayar duluan”
Sedih sekali mengingat biaya sekolahku yang selangit, kini harus membuat mereka mengencangkan nafas untuk lebih berusaha, ya berusaha sebagaimana mengorbankan tulang-tulang mereka yang mulai rapuh demi sesuap nasi. Maafkan aku Ibu, Ayah. Maafkan aku yang tidak berguna.
Di sekolah, di jalanan, di rumah tak lepas dari fikiran yang menganjil di dada ini. Aku tak tahu harus bagaimana lagi.
“Ray, sekarang sudah jatuh tempo seperti yang sudah ada di surat perjanjian yang lalu”
“iya bu, mungkin 5-10 hari lagi Ayah saya gajian”
“iya ibu tunggu, kalau bisa secepatnya ya nak, atau kalau tidak (dengan nada melembut) kamu tak bisa ikut ulangan”
“iya, bu insyaallah”
Kini yang ada beban di kepalaku ini sudah tak tanggung-tanggung lagi. Kurasa aku menemui jalan buntu. Sungguh sedih melihat Ibu yang terlihat tua dan serba salah karena stress berat, kini rambutnya sebagian sudah mulai memutih, aku sungguh anak yang tak berguna. Tapi yang ibu inginkan dariku hanya belajar sungguh sungguh dan damai tak ada keributan. Ia juga senang kalau anak-anaknya bisa rajin shalat. Mereka selalu berjuang untukku, sebagaimana mereka membesarkanku pada sekolah swasta itu, membesarkan mimpi mimpiku yang ingin pergi ke Jepang. Tapi apa sekarang? Apa yang bisa ku perbuat? Nilai raporku saja belum cukup bisa memuaskan mereka. Hey, aku tak bisa memuaskan mereka hanya dengan nilai rapor yang tujuh, tujuh, tujuh koma, tujuh, dan delapan. Oh tidak, seharusnya mereka lebih banyak memberiku angka delapan agar Ayah dan Ibuku tersenyum kembali, atau sesekali angka 9 agar mereka bangga, ini sungguh tak adil, mereka tak adil. Tidak! Ini semua salahku, ini semua salahku yang tak berguna, seharusnya aku lebih berusaha.
Aku adalah seorang lelaki yang hanya bisa bercerita pada selembar kertas, aku tak tahu lagi kepada siapa harus bercerita kesedihan ini selain kepada Tuhan. Aku juga sudah malu memohon dan selalu memohon pada-Nya. Sekarang aku hanya menunggu sesuatu yang terbaik untukku, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Atau cara lain menutupi kesedihan ini adalah dengan bernyanyi, menyanyikan sebuah lagu dengan gitarku yang sengaja ku ubah nadanya jadi mayor agar terlihat baik-baik saja. Selalu kubawa gitar itu kemana saja aku harus pergi, termasuk di sekolah. Di atas gedung sekolah saat sekolah masih sepi, sesekali aku bernyanyi lagu sedih di nada yang minor, kunyanyikan sampai kelas berakhir lagi dan sepi kembali. Ini selalu kulakukan demi menghindari suasana rumah yang membuatku kembali sedih dan tak tega untuk melihat mereka. Jika aku pulang, aku selalu segera memeriksa ke balik tudung saji, di atas meja makan. Dulu mungkin kami masih bisa membeli nasi, sayur, lauk dan sedikit buah, tapi sekarang himpitan ekonomi mengubah menu makanan kami. Kami hanya makan seadanya saja, dengan nasi-lauk atau terkadang nasi-sayur saja. Sungguh lirih sekali, tapi setidaknya kami-kami ini orang yang masih jauh beruntung dari mereka yang kurang beruntung. Aku seharusnya bersyukur.
Kini Ayahku sering pulang malam, terkadang sampai jam 2 pagi. Mungkin efektifnya Ia bekerja hanya sampai jam 11 malam dan waktu lainnya selalu Ia gunakan untuk istirahat dan membagi ceritanya di tempat rekan kerjanya yang seperti saudara sendiri. Saat pulang ke rumah, hanya raut wajah yang muram yang terlihat, raut wajah yang tak semuda dulu. Aku terkadang kena imbasnya, aku selalu dimarahi jadi pelampiasan client-clientnya yang telat stor dengannya. Ya, Ayahku adalah kolektor yang tak lain adalah tukang tagih. Ia bekerja pada suatu perusahaan kartu kredit besar. Tapi Ayahku bukan seperti yang kalian kira, Ayahku ini bukan lintah darat, Ayah hanya seorang kurir mengantar tanggung jawab besar kepada bank itu, mengantar uang storan clientnya bukanlah seorang renternir. Ayah bahkan mengingatkan clientnya supaya tidak lupa membayar tagihannya, agar mereka tidak mendapat denda. Ayah bekerja dengan tenaga, mulut dan kesabarannya. Terkadang saat Ia menagih di kantor DPRD dan duduk menunggu selama 2 jam, clientnya bisa saja kabur mengkhianatinya. Ya, aku tahu sekali, saat kecil aku sering dibawanya kerja dan selalu ingin cepat cepat pulang. Kasihannya lagi, kami selalu dapat gaji yang kurang, sangat kurang untuk 4 orang anak laki-laki yang hanya menyusahkannya saja. Sekarang yang ada pendapatannya semakin berkurang di tengah harga yang selalu melambung, apalagi biaya sekolah. Oh, tuhan inikah cobaan? Mengapa Ia? Mengapa Ia yang sudah kehilangan sebagian raganya.
Berfikir tentang apa dan bagaimana seseorang bisa bangga dengan dirinya sendiri, bukan sombong, suatu hari seseorang bilang padaku, ‘menulis adalah profesi yang terhormat’. Kemudian aku memanfaatkan kebiasaanku ini, aku mencoba membuat beberapa karya tulis. Terus dan selalu kucoba.
“setelah ini, apa yang bisa diperbuat bu?” (bertanya pada seseorang guru)
“salah satunya kamu bisa kirim ke media, nak”
Ahh, itu dia. Aku mulai berfikir itu adalah titik cerahku. Mungkin dari situ aku bisa mendapatkan uang. Ya, paling tidak untuk bayar hutang sekolah agar sedikit meringankan beban orang tua. Tapi media manapun tak pernah mengkonfirmasi karyaku. Ohh Tuhan beri aku kekuatan untuk selalu mencoba ini, beri aku kekuatan demi sesuap uang yang berharga untukku, hanya dengan menjadi seorang penjual cerpen yang selalu menunggu setiap dering telfon dari pengusaha media, yang mungkin akan jadi jalan keluarnya, jalan keluar yang akan menyelamatkannya dari ketidak-bergunaan.


0 komentar: