Kaki-kaki kuda
Hai langit sore, dimana ku menulis kata tak berguna ini. Kembali lagi kupandangkan wajahku ke arahmu. Mencari cari keberadaan Tuhan dan mulai mengadu sesuatu. Banyak sekali bicaraku ini sampai Tuhan mulai bosan dengan mauku. Hai jalanan sunyi, kulalui engkau dengan pandangan kosong. Yang ada hanya sebuah rasa kekhawatiran untuk seseorang yang telah memenuhi isi bagian besar otak ini. Ini seperti lepas dan tak terkendali. Tak bisakah agar semuanya kembali indah saja? Kembali? itu berarti kau harus mengulangnya lagi. Tapi tak bisa Ray kau ulang kembali waktu, meski beribu kali kau memejamkan mata dan berharap bisa kembali menemui masa lalu. Pasir pasir dalam waktu itu, tak akan mulai berhenti sebelum mereka habis. Goresan tinta yang monoton ini sungguh sesuai dengan kisah yang tak henti hentinya selalu berpola sama. Hanya saja aku kasihan kepada setiap pendengar pengaduanku. Pengaduanku tentang ketidak-becusan memperjuangkan cinta sendiri. Mereka pasti sudah muak dan menutup telinga mereka rapat rapat saat ku mulai lagi dengan renge’an yang tak jelas. Ada lagi yang lebih dari sekedar renungan, tentang bodohnya diri ini memperujungkan nasib pada satu tombak kecerobohan. Kau terlalu hangat! Kau terlalu cepat! Kau berlebihan! Kata kata itu mulai memekakan hati, bahkan sampai ke alam mimpi. Tak ada hidup tak berguna selain kau mulai datang dengan mengganggu hidup orang lain. Pergilah untuk beberapa waktu, dan kau akan mempercayainya dengan sepenuh hati. Tapi sampai sekarang rasa percaya itu belum ada. Tak ada satu pertandapun yang meyakinkanku untuk bergerak lebih lambat agar semuanya tenang tenang saja. Langkah langkah ini mulai kehabisan akal. Dan semuanya tak pernah sedingin ini. Berikan aku satu pertanda.
Kembali kepada bagaimana aku mengenalnya. Wanita yang sudah sejak lama dekat karna ada pada satu wadah, tapi baru kukenal akhir akhir ini. Semuanya tak pernah terbayangkan sebelumnya, karena aku terlalu fokus pada satu titik. Bahkan sebelum rasa ini hadir, nama yang selalu terkata dari setiap bibir orang orang, tak pernah ku hafal dan kumasukan dalam hati. Semuanya berubah, termasuk cara pandangku semenjak rasa ini datang. Rasa yang kupercayai bukan hadir dari hasil kontrol diri, melainkan anugrah yang datang sendiri. Ia datang tanpa alasan, dan pergi tanpa pernah bisa. Rasa ini terus terjebak di dalam hati, semakin lama semakin dalam rasanya. Sungguh dari setiap momen tak ingin ada yang terlewati. Tapi ini tak seharusnya terjadi, karena bisa mengusik kehidupan orang lain. Coba tanya kepada hati yang tak pernah berhenti berbuat. Berbuat lebih dengan menunjukan bagaimana apa yang sesungguhnya dirasakan hati ini, tapi dengan begitu tak berarti kau membuat hidup orang yang kau kasihi itu lebih baik dari sebelumnya. Maka buatkanlah aku sebuah mesin pengontrol detak jantung, agar jantung ini tak berdetak kencang saat Ia tepat di sampingku dan kami berdua duduk manis di kursi itu. Berikanlah aku sebuah pemandangan indah yang lebih indah dari sekedar memandanginya, agar semuanya bisa teralihkan dan tak semestinya meresahkannya. Ikatkanlah aku pada sebuah tiang di saat tubuh ini mulai bergetar hebat berada di dekatnya, berdiri berdampingan menunggu hujan di gubuk itu. Adakah pil penenang khusus saat aku mulai gugup berkata sambil memandangi matanya yang cerah dan tajam agar tak ada kata-kata yang patah lagi. Wahai guru ahli kelenturan badan, ajarilah aku bagaimana halusnya memperlakukan wanita tanpa harus ada rasa kaku, menunjukan rasa sayang tanpa dengan sikap dingin. Adakah mata pelajaran dimana mengajarkan kita tenang adab dalam berjalan tanpa harus tergesa gesa di hadapan siapapun. Semuanya sulit untuk terjamah hati. Sudikah Ia menungguku sampai benar benar mengerti hasil dari usahaku mengubah diri ini. Atau jika hasil ini adalah nihil, berharaplah banyak banyak Ray, berharap Ia akan menghargai usahamu saja. Andai fikiran cenayang ada padaku, dari setiap apa yang diinginkannya akan aku dengarkan tanpa harus menebak nebak dan tertipu dengan mimik wajah yang polos. Sungguh dirinya sangat sulit untuk diterka. Tapi tetap Ialah yang terhebat. Hidupnya kini jadi hidupku juga. Dan kisahnya terjebak dalam hati ini. Ia tumbuh bersama di dalamnya. Beriringan dengan waktu yang berjalan melintasi isi pena dari setiap penulis kisah. Semakin waktu, mereka pasti akan menghilang. Ada yang menghilang dalam kesedihannya, dan ada yang menghilang di ujung penanya tentang cerita bahagianya. Semuanya masih belum bisa tertebak yang mana akhir kisah ini.
Dan sekarang kembali dengan apa yang menjadi tujuanku. Perintahkan beberapa orang untuk mengikat gerak tanganku agar tak terlalu berlebihan. Ada dimana kesedihan dari setiap tetes air mata seseorang, kau ingin menghapuskannya. Kadang kau berhasil, tapi tidak saat kau berdiri dengan keras hati dan kau malah justru melukainya lebih parah lagi. Maka disitu kau akan mencari pena. Pena? Yak pena untuk menusuk hatimu sendiri yang merasa tak berguna atas apa yang sebenarnya kau tuju. Ahh itu hanya teori saja. Selanjutnya gunakan akalmu dan ikuti apa kata hatimu. Tapi oh Tuhan kumohon untuk satu pertanda darinya, sebelum kaki-kaki kuda yang berlari kencang ini terhenti. Dan yang terpenting saat dimana aku sudah malas untuk mengoceh dan lebih baik diam atau memikirkan apa yang menjadi tujuanku maka disitu hanya ada satu, aku hanya tak ingin mengecewakannya.

0 komentar: