Share !

di selembar putih abu-abu ini

di selembar putih abu-abu ini


Kami berdiri dan beranjak di saat semua suara bel bernada G mulai menggetarkan telinga bahkan hampir memecahkan isi telinga kami lalu kami kemudian masuk dan duduk dengan tangan besila, ya semuanya, tapi tidak! itu bukan kami. Kami-sebagian mungkin bukan satu di antara orang orang seperti itu. Kami punya peraturan yang kebanyakan orang bilang hanya untuk dilanggar saja, ya dan kami kadang memang melanggarnya dan bodohnya lagi itu aku, jelas aku adalah satu di antara mereka walau mungkin tak separah dari yang terparah. Yang terparah di antara kami mungkin bisa sampai ke hal absurd saat melekatkan permen karet ke rambut yang konturnya halus dan sensitif lalu kemudian mentertawakan korbannya sendiri saat permen itu tak mau lepas dari kepalanya, kami baru akan menolongnya saat si korban berkata “aku ingin mati saja” dan jelas kami akan mengambil gunting atau jika tak ada kami ambil pisau “cutter” yang biasa digunakan untuk mengukir meja kelas kami dengan nama nama hari tanggal jadian kami (ya itu bukan urusanku dan yang jelas aku tak pernah menulis tanggal apapun di sana). Lalu saat kau masuk ke WC laki-lakinya, beberapa tulisan di temboknya pasti akan selalu kau baca saat kau membuka resletingmu dan melancarkan urusanmu, menemani saat saat sepimu di dalam WC siswa itu ketimbang memikirkan hal hal mistik. Saat pesan balas-balasan itu mulai memenuhi isi sudut-sudut ruang WC itu, kau juga bisa mencium jelas bagaimana harumnya aroma urin orang orang tak bertanggung jawab yang tercium sampai ke lab IPA dan tempat wudhu kami di depan mushala kami.



Sebagian dari kami yang umurnya masih labil dan kehidupannyapun dipusingkan kepada gaya hidup yang kritis, hatinya diisi penuh kegalauan yang menyerauti di tiap langkahnya dari rasa yang bercampur aduk di antara butir-butir masalah ini yang sebenarnya sangat butuh bantuan untuk meredamnya, atau jika tidak kami semua akan musnah. Sebagian dari kami keluar saat guru sedang tak absen di kelas kami, alasannya klasik dan sebagian memang jujur dan terlalu jujur. Kami yang keluar karena tuntutan fisik yang agak sulit ditahan, misalnya kami menghadapi jam kosong dan berlari ke arah kantin yang tempatnya strategis untuk menyantap seharga 2000 rupiah makanan, menjadikan kehidupan kami terisi energi lagi dan bersemangat untuk belajar, ya saking bersemangatnya beberapa orang yang fisiknya loyo dan manja akan mengisi jam kosongnya dengan tertidur di atas tumpukan buku dan kertas yang sebagian telah basah oleh sesuatu. Ya, untuk yang di rumahnya pagi ini banyak minum air dan sekarang fisiknya meminta perbaharuan air yang baru dan turut membuang yang lama, atau mungkin yang dari semalam belum sempat buang air kecil, di jam kosong sekarang ini maupun tengah jam pelajaranlah kami akan keluar dan menemui ubin kotak kotak berlumut di bawah udara yang segar, udara luar yang bebas saat kepalamu kau angkat ke atas dan melihat latar langit biru di tengah gedung gedung sekolah berlantai tiga itu, tapi tak begitu segar saat kau sudah masuk inti ruangan. Beberapa poin tadi hanya tuntutan fisik yang pertimbangannya akan jadi lebih sulit saat tidak diekspresikan, apalagi jika poin itu bukan terkait faktor fisikis, tapi faktor batin. Faktor batin di mana saat-saat kau melihat wanita dan pria berdempetan di bawah pohon dan di beranda-beranda kelas, kau akan melihat jauh bagaimana hubunganmu yang galau bersama cintamu yang benar benar suci di tengah kehidupanmu yang kini liar, dan bertanya apakah suatu saat kau akan seperti itu atau tidak akan pernah terjadi. Maka di saat itulah kau keluar bukan karena perutmu lapar atau kandung kemihmu tak kuat menahan urin, tapi karena kegalauan yang selalu terbayang bersama ke-labilan umur yang menumbuhkan hormon asing karena sudah kenal apa itu namanya cinta, jatuh cinta dan galau cinta. Kau akan keluar membawa sesuatu untuk dipegang yang terkadang itu akan kembali atau terkadang kau buang ke tong sampah, lalu kau tak-langsung masuk ruangan tapi malah duduk duduk di kursi, di depan ruanganmu. Hanya untuk membayangkan masalahmu, kau perlu latar yang tepat agar nantinya tak begitu rumit yang akan menambah kadar galaumu dalam hatimu, lalu kau hanya perlu menatap sebuah pohon besar di tengah 4 gedung sekolah kami yang terkadang menguning dan sesekali tak ada satupun daunnya, lalu setelah itu kau akan menatap atas dengan pandangan kosong agar kau hilang ingatan dan hidupmu tenang sesaat. Ingatan akan tersadar kembali saat teman temanmu yang tak tahu apa apa tentang urusanmu menepuk pundakmu dan memanggil namamu ‘Ray’ dan bertanya sedang apa kau di sini. Lalu seorang guru yang lewat di lamunan kami akan mengusir kami dari situ dan kembali masuk ke kelas dengan terbirit-birit.


Di saat galau di kelasmu karena tak lebih baik dari kemarin, antara apa yang kau kejar dan yang harus kau hindari kau tak mampu mengatasinya, dan juga di saat primadona mulai memusatkan para lelaki untuk terus melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan seperti berkata bullshit dan sekedar meminjam pena, maka kau tak tahu lagi apa yang akan kau lakukan selanjutnya untuk membuat dirimu berbeda dan lebih baik dari rival yang lainnya, lalu kau akan benar benar rumit dan putus asa dalam hatimu saat semua yang kau miliki sepertinya tak pernah cukup ada harapan untuk menuntun hatimu pada seseorang itu. Kau akan merenungi dirimu di kursi tadi dan di lain tempat yang kata orang lain sebenarnya tak perlu kau fikirkan kekurangan yang memang sudah takdir kita sendiri, tapi malah justru kau akan bersesal hati dengan apa yang sudah ada dari dirimu dan ingin jadi orang yang lebih dari dirimu itu, terus menerus memaksakan dirimu untuk jadi orang lain agar kau tak kalah dengan mereka. Tapi tidak untukku, aku mungkin akan banyak diam dan menahan sakit sendiri. Jadi di saat ku memang biasa onar di kelas lalu kemudian teman-teman bertanya, ‘kapankah kau bisa sedikit saja diam Ray?’ jawabnya adalah saat aku mulai merasa tak sadarkan diri dan banyak berfikir ‘tidak’, tidak akan bisa kau buat Ia berperasaan sama denganmu, tidak akan mau Ia dengan orang sepertimu, tidak akan bisa kau menghianati teman lelakimu yang juga suka dengannya, tidak akan bisa kau mendapatkan hati wanita ini hanya dengan sepenuh-bagian hatimu, tidak akan Ia memikirkanmu seperti kau memikirkanya dengan batin yang tertekan, tidak akan kau mendapatkan hal yang sama seperti orang lain mendapatkannya darinya, atau mungkin tidak akan perduli wanita ini sampai kapan-pun padamu. Sebenarnya masih banyak hal ‘tidak’ yang ada di benakku ini saat merenungi nasib di tengah pergalauan jam pelajaran kosong ini, tapi ceritanya akan jadi lebih panjang dari intinya. Jika seperti ini makian dari diri sendirilah yang akan menyadarkanku saat aku dimaki ‘lemah sekali kau jadi lelaki’, maka di situlah aku harus menegakan punggungku dan menarik nafas dalam dan lalu kemudian pergi dari lubang renungan yang memalukan untuk seorang laki-laki, di situ jugalah aku kemudian membuat fikiran baru dan banyak berfikir positif.


Kembali berdiri sebagai lelaki dan pura-pura tak terjadi apa-apa pada dirimu, lalu kau akan dihampiri dan bergantian mendengar cerita dari tiap-tiap temanmu yang sebenarnya sangat menyakitkan untuk dirimu karena titik ganjilnya ada pada ‘aku tahu ceritanya’ dan ‘Ia tak tahu ceritaku’. Ia bercerita bagaimana manisnya cerita Ia dan wanita ini yang menurutnya begitu manis untuk kudengar dan menunjukanku begitu jelas seolah olah aku ini benar benar ada di antara mereka berdua, atau jika benarnya aku memang berada di antara mereka itu, mungkin aku akan mati berdiri karena jantungku goyah tak kuasa menahan beban perih rasa iri. Lalu aku akan tersenyum di dalam wajah, dan terkadang agak sulit dan sedikit kaku rasanya menggerakan syaraf-syaraf muka ini karena sebenarnya dada ini sangat panas dan terkadang pasrah saja. Ia bercerita seberapa jauhnya Ia berhasil merenggut hati wanita ini dengan takaran persen. Sedangkan aku, di saat seperti itu aku hanya miris dengan kegalauanku terhadap wanita yang sama, ternyata tak selancar yang ku bayangkan dan benar benar sudah berada pada firasat burukku sebelumnya, ya sebelum aku benar benar tahu perbandingan temanku ini dan diriku sendiri. Ya tapi aku lelaki, lebih banyak merintih sendiri dan merusak benda nyata ketimbang menangisi hal yang belum jelas. Tak disangka dari setiap isi tawa kami, arti dari setiap rangkulan tangan di atas pundak kami ini, arti dari setiap nyanyian-nyanyian bersama ini, banyak tersimpan cerita yang tidak ada pada tulisan di atas fakta, cerita yang hanya bersembunyi di balik fakta dan hanya tokoh utamanya saja yang tahu, tidak ada sekalipun Ia kerabat dekatmu. Bisa saja Ia rivalmu, rivalmu yang berawal dari teman, teman dimana Ia membingungkanmu di saat Ia berkata di antara kata ‘Ya atau Tidak’ mencintainya dan kemudian saat ku mulai mencintai wanita yang dikhianatinya lalu Ia kembali mencintai wanita ini dan lengkaplah Ia menjadi rivalku.


Tak tahu kenapa menghadapi pertemanan dan percintaan saat mereka bertentangan adalah sangat rumit, jadi di saat kau benar benar mencintai seseorang dan sangat menghargai temanmu, kedua langkahmu ini tak ada satupun yang selancar dulu seperti sebelum dua rasa ini saling beradu. Dahulu saat kau benar-benar memiliki cinta yang bisa kau cintai dan teman yang selalu menemanimu dengan sekat yang berbeda. Untuk sekarang mungkin sesekali kau akan diam dan ikhlas saat cinta dan temanmu saling cinta dan lebih baik dari hubunganmu dengan cintamu, tapi tidak saat waktu waktu tertentu, dan yang namanya cinta segi-tiga selalu membawamu pada kegalauan yang mungkin akan masuk ke dalam hidupmu dan kau akan kembali miris, ya meskipun rivalmu adalah temanmu sendiri. Tapi inilah yang namanya cinta, cinta tetaplah cinta. Begitu pula teman, teman tetaplah teman seperti kebanyakan orang bilang. Yak, keduanya memang memiliki makna yang berbeda antara satu dan yang lainnya dan tak bisa disama-samakan juga seperti kau mencampurkan lebih banyak kecap di dalam nasi gorengmu. Biarlah kami semua menyayanginya bersama-sama, dengan begitu kami semua saling menyayangi satu sama lain, ya paling tidak hanya untuk di dalam kata saja dulu lalu kau bisa sedikit bijak dan dewasa.

Hidup kami memang terkadang asal asalan tapi kami ini tetap satu saudara meski rumit. Kami harus tetap punya mimpi untuk dikejar, ya mimpi kami adalah selalu menyatukan hati kami di balik nama sekolah kami, sekolah dimana putih abu abu ini kami gantungkan, berkibar di bawah bendera merah putih, hingga suatu saat nanti saat kami tak lagi bersama, di sanalah hanya terkenang kenangan manis tentang kehidupan putih abu abu yang mungkin tak akan terlupakan dan akan terus terkenang. Akan selalu terkenang di bawahnya bahwa di sini pernah ada cerita, di seragam ini pernah ada nama kami di dadanya, di lengannya ada badge nama sekolah dengan warna yang kadang kusam, dan di sini di sekolah ini pernah ada cinta dari kami kami yang saat itu mengukir galau karna kami labil, pernah ada tangisan, pernah ada duka, pernah ada bahagia, pernah ada tawa, pernah bercerita dengan banyak hal absurd, pernah lari dari kejaran guru, pernah ada cerita di pojok kelas kami saat jam istirahat yang selalu ada anak laki-laki sedang berkumpul dan bernyanyi bersama, dan satu cerita yang paling teringat mungkin saat kau memandangi wanita itu dari atas lalu kehilangan jejaknya dan turun ke bawah berniat mencarinya dan ternyata kau malah dikejutkan olehnya karena hampir bertumburan muka antar muka, akan membawanya dalam ingatan bersama cinta yang dulu pernah dan mungkin sekarang masih tertanam dalam hati kami. Persahabatan dan cinta di masa-masa SMA tempo dulu, cinta pada primadona yang bukan sembarang wanita, dan juga rasa galaunya yang tiap saat hadir.

1 komentar:

  1. The most important thing to keep in mind about casino gambling - Dr
    In this article, we 제주도 출장샵 will talk about the gambling phenomenon, the 서산 출장마사지 amount 구리 출장마사지 of gambling money being wagered at 서귀포 출장샵 different gambling 성남 출장샵 sites,

    BalasHapus

Visitor Hit