Love

Love is a four letters word. Word can't explain what is love.

Action

Action is some style in life. It's about emotion, experience, adventure or something rock.

Friendship

sometime you can't make something alone. Altrough you are a richman. Could you stand in earth alone?

Calm down for passion

Sometimes when you too much talk you can't hear what people want to say. So, The quieter you become, the more you are able to hear.

Glory !

Glory Glory Man United" was a 1983 single released by the Manchester United F.C. squad prior to the 1983 FA Cup Final. It was written by Frank Renshaw, who was a member of Herman's Hermits in the 1970s and 1980s.

Be Logic !

Man has such a predilection for systems and abstract deductions that he is ready to distort the truth intentionally, he is ready to deny the evidence of his senses only to justify his logic.

Share !

Kaki-kaki kuda

Hai langit sore, dimana ku menulis kata tak berguna ini. Kembali lagi kupandangkan wajahku ke arahmu. Mencari cari keberadaan Tuhan dan mulai mengadu sesuatu. Banyak sekali bicaraku ini sampai Tuhan mulai bosan dengan mauku. Hai jalanan sunyi, kulalui engkau dengan pandangan kosong. Yang ada hanya sebuah rasa kekhawatiran untuk seseorang yang telah memenuhi isi bagian besar otak ini. Ini seperti lepas dan tak terkendali. Tak bisakah agar semuanya kembali indah saja? Kembali? itu berarti kau harus mengulangnya lagi. Tapi tak bisa Ray kau ulang kembali waktu, meski beribu kali kau memejamkan mata dan berharap bisa kembali menemui masa lalu. Pasir pasir dalam waktu itu, tak akan mulai berhenti sebelum mereka habis. Goresan tinta yang monoton ini sungguh sesuai dengan kisah yang tak henti hentinya selalu berpola sama. Hanya saja aku kasihan kepada setiap pendengar pengaduanku. Pengaduanku tentang ketidak-becusan memperjuangkan cinta sendiri. Mereka pasti sudah muak dan menutup telinga mereka rapat rapat saat ku mulai lagi dengan renge’an yang tak jelas. Ada lagi yang lebih dari sekedar renungan, tentang bodohnya diri ini memperujungkan nasib pada satu tombak kecerobohan. Kau terlalu hangat! Kau terlalu cepat! Kau berlebihan! Kata kata itu mulai memekakan hati, bahkan sampai ke alam mimpi. Tak ada hidup tak berguna selain kau mulai datang dengan mengganggu hidup orang lain. Pergilah untuk beberapa waktu, dan kau akan mempercayainya dengan sepenuh hati. Tapi sampai sekarang rasa percaya itu belum ada. Tak ada satu pertandapun yang meyakinkanku untuk bergerak lebih lambat agar semuanya tenang tenang saja. Langkah langkah ini mulai kehabisan akal. Dan semuanya tak pernah sedingin ini. Berikan aku satu pertanda.

Kembali kepada bagaimana aku mengenalnya. Wanita yang sudah sejak lama dekat karna ada pada satu wadah, tapi baru kukenal akhir akhir ini. Semuanya tak pernah terbayangkan sebelumnya, karena aku terlalu fokus pada satu titik. Bahkan sebelum rasa ini hadir, nama yang selalu terkata dari setiap bibir orang orang, tak pernah ku hafal dan kumasukan dalam hati. Semuanya berubah, termasuk cara pandangku semenjak rasa ini datang. Rasa yang kupercayai bukan hadir dari hasil kontrol diri, melainkan anugrah yang datang sendiri. Ia datang tanpa alasan, dan pergi tanpa pernah bisa. Rasa ini terus terjebak di dalam hati, semakin lama semakin dalam rasanya. Sungguh dari setiap momen tak ingin ada yang terlewati. Tapi ini tak seharusnya terjadi, karena bisa mengusik kehidupan orang lain. Coba tanya kepada hati yang tak pernah berhenti berbuat. Berbuat lebih dengan menunjukan bagaimana apa yang sesungguhnya dirasakan hati ini, tapi dengan begitu tak berarti kau membuat hidup orang yang kau kasihi itu lebih baik dari sebelumnya. Maka buatkanlah aku sebuah mesin pengontrol detak jantung, agar jantung ini tak berdetak kencang saat Ia tepat di sampingku dan kami berdua duduk manis di kursi itu. Berikanlah aku sebuah pemandangan indah yang lebih indah dari sekedar memandanginya, agar semuanya bisa teralihkan dan tak semestinya meresahkannya. Ikatkanlah aku pada sebuah tiang di saat tubuh ini mulai bergetar hebat berada di dekatnya, berdiri berdampingan menunggu hujan di gubuk itu. Adakah pil penenang khusus saat aku mulai gugup berkata sambil memandangi matanya yang cerah dan tajam agar tak ada kata-kata yang patah lagi. Wahai guru ahli kelenturan badan, ajarilah aku bagaimana halusnya memperlakukan wanita tanpa harus ada rasa kaku, menunjukan rasa sayang tanpa dengan sikap dingin. Adakah mata pelajaran dimana mengajarkan kita tenang adab dalam berjalan tanpa harus tergesa gesa di hadapan siapapun. Semuanya sulit untuk terjamah hati. Sudikah Ia menungguku sampai benar benar mengerti hasil dari usahaku mengubah diri ini. Atau jika hasil ini adalah nihil, berharaplah banyak banyak Ray, berharap Ia akan menghargai usahamu saja. Andai fikiran cenayang ada padaku, dari setiap apa yang diinginkannya akan aku dengarkan tanpa harus menebak nebak dan tertipu dengan mimik wajah yang polos. Sungguh dirinya sangat sulit untuk diterka. Tapi tetap Ialah yang terhebat. Hidupnya kini jadi hidupku juga. Dan kisahnya terjebak dalam hati ini. Ia tumbuh bersama di dalamnya. Beriringan dengan waktu yang berjalan melintasi isi pena dari setiap penulis kisah. Semakin waktu, mereka pasti akan menghilang. Ada yang menghilang dalam kesedihannya, dan ada yang menghilang di ujung penanya tentang cerita bahagianya. Semuanya masih belum bisa tertebak yang mana akhir kisah ini.

Dan sekarang kembali dengan apa yang menjadi tujuanku. Perintahkan beberapa orang untuk mengikat gerak tanganku agar tak terlalu berlebihan. Ada dimana kesedihan dari setiap tetes air mata seseorang, kau ingin menghapuskannya. Kadang kau berhasil, tapi tidak saat kau berdiri dengan keras hati dan kau malah justru melukainya lebih parah lagi. Maka disitu kau akan mencari pena. Pena? Yak pena untuk menusuk hatimu sendiri yang merasa tak berguna atas apa yang sebenarnya kau tuju. Ahh itu hanya teori saja. Selanjutnya gunakan akalmu dan ikuti apa kata hatimu. Tapi oh Tuhan kumohon untuk satu pertanda darinya, sebelum kaki-kaki kuda yang berlari kencang ini terhenti. Dan yang terpenting saat dimana aku sudah malas untuk mengoceh dan lebih baik diam atau memikirkan apa yang menjadi tujuanku maka disitu hanya ada satu, aku hanya tak ingin mengecewakannya.

Doa Seorang Penjelajah

Kisah dari seorang penjelajah





Sulit memang hidup dan terjaga di atas ladang ranjau. Tak selangkah bisa mundur dan tak selangkah juga bisa maju. Tapi kerasnya rasa ini menuntun diri ini untuk terus berjalan. Aku lebih baik mati di selangkahku ke depan, ketimbang mati menjadi pecundang saat menginjak ranjau di langkah mundur. Mengapa aku begitu tinggi dijatuhkan di lubang yang pekat dengan rasa-rasa seperti ini, begitu tinggi untuk terlalu cinta kepada orang yang benar benar dari kasat mata jauh berbeda dari kehidupanku, ya itu sebabnya mungkin aku mengaburkan pandanganku tentang urusan yang telah biasa dilihat mata (urusan fisik dan lainnya) dan aku sekarang melangkah tanpa apa apa kecuali hati dan keberanian yang sudah pekat di dalam dada ini. Atau kau tahu, rasa rasa di saat kau merasa sayang tapi kau takut kehilangannya. Rasa dimana kau telah kehabisan makananmu di tengah perjalanan yang mungkin panjang bagimu dan tersungkur di pinggiran ditemani rasa gundahmu, terkadang, tapi lalu orang orang desa memberimu makan sedikit demi sedikit dan kau selamat sampai sejauh ini. Orang orang desa itu sungguh tahu seberapa penting perjalananku untuk menempuh hidup ini, tapi mereka tak seberapa mengerti apa yang sebenarnya aku tuju. Mungkin sulit untuk menjelaskannya, karena mungkin hanya aku saja yang merasakannya. Dan di jeda-jeda perjalananku itu, yak! Dan saat aku merenungi kembali apa tekatku ini nyata sambil meratapi tanah, dan terkadang di bawah langit malam aku terbangun dan tersungkur di hadapan Tuhan dan memanjatkan do’a, menangis deras sekali, lalu mereka merangkul pundakku dan banyak berkata baik. Mungkin perkataan-perkataan itu bukan seberapa penting bekal perjalanan ini, tapi yang terpenting adalah niat ini. Niat dari dalam hati bahwa kau tak perlu lelah untuk mencapai apa yang kau tuju dari ucapanmu dan tekat batinmu, dan juga tak pernah sesekali melihat ke arah belakang dan melupakannya. apa kau sombong? Tidak! Aku telah mencatat poin bagusnya di dalam buku. Ya, dan tak akan pernah ku ingat lagi apa keburukannya.

Di perjalanan, mungkin orang-orang yang merangkulku tadi banyak bertanya “siapa namamu?”, “dari mana asalmu?”, “apa tujuanmu?”, tapi tak seberapa penting dan aku akan memulai dari yang terpenting “apa kau yakin?” dan mereka meneruskan dengan memberi dua pilihan “bila kau yakin teruskan dan bila kau ragu pergilah jauh jauh dari perjalanan ini” pertanyaan itu intinya sama, begitu pula dengan jawabannya. Mereka mungkin mendapat tanggapan sama dariku, jika tidak menganggukan kepala, mungkin aku sedikit berkata, “Ya! Apa ada kata yang lebih dari kata ‘yakin’?”. Saat aku bercerita panjang lebar apa yang sebenarnya aku tuju, yak! mereka bahkan tak sebegitu mengerti apa yang baru saja aku bicarakan. Sebenarnya yang ku tuju itu adalah hanya seorang wanita, atau tanpa kata ‘hanya’ di depannya bagi seorang tokoh utama, ya! Itu aku. Apa wanita ini benar benar tahu kau sekarang sedang di perjalanan menujunya? Ya, mungkin hanya tahu sedikit. Tapi akan ku buat Ia tahu dan benar benar tahu apa arti jalan-jalan panjangku ini untuknya. Lalu siapa wanita itu? Kau mungkin tahu. Bahkan kau mungkin tahu seberapa dalam kau mengetahui kehidupannya, tapi tetap saja kau tak pernah tahu bagaimana perasaan seorang wanita yang dari luar terlihat jelas dan di dalamnya ternyata lunak sekali. Yak, Ia wanita bukan? Berarti kau memang sudah pernah bertemu dengannya ya? Ya, setiap saat bahkan. Wanita itu lah maksud dan tujuanku ini. Ia-lah jiwaku yang menuntunku ke jalan ini, menuntunku untuk apa aku jauh jauh ke jalan ini. Lalu apa yang sebenarnya kau tuju? maaf, mungkin aku belum akan mau mengatakannya sebelum aku benar benar tahu apa artinya. Berikan aku kata kunci nak, mungkin aku tahu sedikit. “Cinta”. Mungkin orang orang itu tak lagi bertanya kepadaku, Ia lalu diam menambah panjang kesunyian ini dan memandangi hal apa yang sebenarnya mereka lupakan itu, banyak yang mereka lupakan termasuk kasih sayang. Yak! Sebuah kasih sayang.

Sungguh apa sebenarnya yang menggerakan kaki-kaki ini? apa yang membuat tatapan tatapan mata ini hanya terfokuskanya? apa yang membuat banyak kata tak penting keluar dari mulutku ini? Usaha sepenuh hati yang terkadang sangat konyol? tulisan-tulisan yang terkadang ada di alam bawah sadar? mimpi-mimpiku di malam hari? dan tangisanku di hadapan Tuhan kepada wanita ini? Itulah rasa sayangku. Mungkin wanita ini tak pernah tahu dan mengangap rasa sayangku itu adalah benar benar sayang. Tapi aku tak akan mau memundurkan langkah ini karena Ia kuharap tahu ada seseorang yang benar benar setiap waktunya sedang belajar untuk menemukan arti kata sayang yang sesungguhnya, untuk menyayanginya. Sungguh sedang ‘anak’ ini lakukan. Ku yakin Ia tahu, karena yang selama ini aku tahu, wanita ini bukan memberiku harapan kosong. Selama ini hanya Ialah, sungguh baru Ialah yang benar benar faham dan sedikit menghargaiku. Sungguh wanita yang ingin benar benar aku sayangi. Ya wanita dan keluarganya. Ia beri aku kesempatan itu untuk benar benar belajar. Sedikit demi sedikit Ia beri aku kejutan, Ia berikan aku yang benar benar belum aku tahu. Ia sama sekali bukan orang sombong yang memamerkan kesedihanya, Ia bahkan orang yang pelit untuk berbagi kesedihan. Sungguh hanya senyuman-senyuman itu, hanya kebahagianlah yang kudapat dari bersamanya, sama sekali bukan kesedihan yang Ia tunjukan. Ia wanita dengan segala kekurangannya tapi sengaja tak Ia tutupi pada siapapun termasuk aku. Tapi aku tak peduli dengan semua itu, aku tak peduli dengan wanita ini, aku tak pernah mengangapnya ada, yak, aku tak pernah menganggap segala kekurangnnya adalah nyata. Mengapa aku tak sebegitu peduli pada hal-hal ini? Sungguh mengapa yang terfikirkan di benakku hanya ingin menyayanginya? Mungkin beberapa kali wanita ini sengaja menguji, membuatku berhenti pada langkahku, tapi sayangnya aku tak mengerti, aku tak acuh. Aku benar benar fokus untuk menyayanginya. Aku hedon terkadang dan aku benar benar terbawa hati. Salahkah aku ini, Tuhan? Akan sulitkah ini baginya untuk dihadapi? Ada seseorang yang ingin menyayanginya tapi tak punya banyak ilmu untuk melakukannya. Ada seseorang yang ingin merangkulnya tapi tak tahu bagaimana melakukannya? Ada seseorang yang setiap saat ingin melihatnya bahagia dan menghapus kesedihannya tapi orang ini tak pernah mengerti, orang ini mungkin malah membuatnya kembali menangis? Seseorang yang setiap saat selalu mengganggunya dengan cara-caranya? Ohh Tuhan kuatkanlah Ia menghadapiku, kuatkanlah Ia selagi aku mencoba memahami ini. Kuatkanlah aku yang tak kuasa menahan haru saat aku berfikir Engkau Maha Pengasih mempertemukanku dengan wanita ini. Kuatkanlah aku dalam jalan panjang ini. Demi sayang ini.

Pintu dan 2 pilihan?


  
Sedang menunggu apa aku ini? Sebentar melirik waktu, sebentar lagi melirik ke arah pintu. Sudah 2 menit terakhir sebelum kelas dimulai rupanya. Di ujung pintu kelas yang selalu kupandangi, tapi mengapa belum muncul juga. Tidak ada satupun tanda tanda hari ini akan menyenangkan bagiku. Rasanya kecewa sekali datang ke tempat ini. Padahal sebuah lagu yang mungkin tak terlalu disukainya sudah dipersiapkan sejak pagi buta saat orang yang pertama datang di kelas adalah aku. Beberapa orang mungkin sibuk dengan urusannya di pagi hari saat semua orang berkumpul dalam meja-meja forum diskusi membahas apa yang tak mereka selesaikan di malam harinya. Mereka yang melihatku santai-santai saja dan asyik dengan gitarku tak tahu persis bahwa sebenarnya rasa resah ini merawuti seiring irama lagu mengalir di alunan kelas sambil menunggu bel berbunyi. Menit berakhir, dan aku masih saja memandangi pintu kosong itu, sampai bel dibunyikanpun wanita itu tidak juga datang, cukup kecewa untuk membuat mukaku muram. Rasanya menyesal sekali untuk setiap menit di jam jam datar ini saat bangku yang biasanya di isi dengan wajah-wajah manis, kini di isi dengan kekosongan. Bahkan saat pintu kelas mulai ditutup, aku masih saja berharap ada seseorang membukanya kembali dan membuat keajaiban untukku, tapi sama saja.. pintu itu sudah tertutup rapat-rapat dengan ‘ganjilan kertas’. Ayolah datang, tolong datang untukku! Terus berkata seperti itu dalam hati. Apakah Ia benar benar tak datang hari ini? Aku masih ingat benar kemarin Ia menyapaku di anak tangga itu dan tersenyum untukku, bodohnya aku tak banyak berkata. Kini aku mulai merindukannya, dan aku sungguh kehilangannya. Sepulang sekolah itu juga, aku masih teringat dengan adegan nekadku menghampirinya, dan lagi-lagi berkata kosong, jelas saja ya! Karna sungguh yang sebenarnya ingin ku katakan ada lebih dari berjuta kata dengan 3 kata mewakilinya, ini bisa sangat berbahaya untuk diucapkan langsung, apa kau sanggup mengatakannya? Belum! Sungguh benar benar kacau saat suasana kelas berubah jadi kelam dan suhu AC mulai menambah dingin suasana, ya aku masih saja memandangi pintu itu dengan dua tangan menutup wajah agar sedikit menghangat. Tapi nihil. Ada apa? Kelas sudah berjalan beberapa menit.. di pojok itu mulai terlihat beberapa orang masuk dan mendobrak pintu. Itu mungkin ada dia. Kepalaku sedikit terangkat dan grasah-grusuh. Yah, mungkin ini ceritanya akan jadi seperti yang sering diceritakan di cerita-cerita lain, dan bayanganku endingnya akan jadi suram karna wanita itu tak akan pernah datang lagi untuk tokoh utamanya. Yak, fikirku ini akan sama dengan cerita ini, benar benar kecewa dengan kepala merunduk ke arah lantai. Sudahlah ...

            “gak datang juga?”
            “terlambat mungkin Ray, masih di jalan”
            “gerbangnya pasti udah ditutup”
            (seseorang membuka pintu... dan itu dia wanita itu. Ia yang terakhir)

Gembira setengah mati! Rambutnya berkibar di depan pintu itu tapi aku hanya senyum-senyum saja, ya mungkin sedikit menggebuk-gebuk meja. Sekarang, sejak wanita itu masuk dari pintu yang tertutup sampai Ia duduk di kursinya, aku mulai bisa tersenyum lagi. Bahkan senyumku ini tak akan ada habisnya saat dengan kagum memandangi wajahnya yang indah. Sungguh momen-momen dramatis dari tak enaknya menunggu. Apalagi menunggu yang tak pasti.

Sekarang kelas kembali stabil dengan warna warna yang beragam saat senyumnya mulai menghiasi visual ini, yak meskipun itu pasti bukan untukku. Bahkan aku tak mau kehilangan seperdetikpun untuk melihat Ia tersenyum. Terkadang aku terpana saat Ia mulai sedikit memperlihatkan gesture kepalanya saat berbicara dengan teman sebangkunya. Bla bla bla bla, Ia ahli berekspresi! Wanita itu mungkin tak pernah tahu bahwa selalu ada mata-mata yang memperhatikannya dari balik kepala-kepala orang. Untuk apa mata-mata itu? Mata-mata yang selalu terkagum-kagum oleh dirinya, mungkin dalam arti lain bukan kagum artinya, melainkan ada rasa sayang di dalamnya. Mata mata itu rindu akan senyum senyumnya, Ia sungguh takut kehilangannya. Sialnya, aku memang tak banyak berkata dengannya, karena sekalinya berkata mungkin akan ada satu orang yang tersakiti. Seseorang dari tengah kelas, biasa dengan rutinitasnya ...

            “kodok apa yang di pinggir jalan?”
            “mmm, kodok kurang kerjaan!”
            “salah, kodok pengangguran”
            “itu sama aja!”
            (mereka tertawa, ya aku juga.. tipis sekali, setipis catatan kimiaku)

Siapa yang tak tahu Ia? Pria yang berbeda sendiri di komunitas ini, siapa juga yang tak tahu Ia dan hubungannya dengan wanita itu. Kurasa semua orang mulai mengerti sekarang. Tugasku adalah mulai melatih diri ini untuk menahan emosi, mungkin diam itu lebih terlihat dewasa meskipun berat, walau mungkin jadinya akan seperti anak ayam yang kedinginan. Mungkin fase panjang dan tak enak untuk dilalui ini adalah saat pria itu benar benar sedang menggoda wanita-ku atau bukan wanitanya siapa-siapa, dan kemudian aku kembali.. yak kembali muram, dengan wajah yang berseri-seri tapi sebenarnya sangat kusam. Jika seperti ini aku akan izin untuk ke bawah dan sedikit membasuh muka. Akan ku lempar jauh jauh wajah muram ini, aku akan berjalan lambat saat kembali ke kelas untuk menstabilkan ritme emosi. Saat kembali ke kelas bila beruntung aku akan melihat suasana jernih kembali seperti awal. Yak, tapi bila tidak mungkin aku harus turun lagi untuk kedua kalinya atau mungkin bisa tiga kali atau lebih.

Kejadian dramatis menunggunya datang di kelas mungkin sering ku alami, tapi aku tak pernah kehilangan feel-nya. Di sana ada saat dimana jantungmu berdetak kencang lalu kau akan susah untuk bernafas karena tertahan sesuatu, saat pasrah nafas itu keluar dengan sendirinya. Kau juga akan mengalami grafik ekspresimu yang naik turun saat dari pagi buta kau datang dan menunggunya di kelas sampai wanita itu mendobrak pintu dan mengibaskan rambutnya, ya wajahmu akan labil ekspresinya karena tak tentu bentuknya gimana, terkadang membentuk U lebar dan terkadang bisa sampai terbalik. Cara lain? Ya aku menunggunya di anak tangga itu, memfokuskan ke arah gerbang dan bersandar di pinggirnya, ku buat sebagaimana aku menunggu tetapi tetap dengan keadaan relaks. Saat teman teman lain datang? Ya, aku berpura pura sedang bersantai dan tak sedang menunggu apa-apa, ya kami membicarakan sesuatu. Terkadang jika tidak ada bahan mereka lalu membuat topik yang agak ngawur, seperti membuat lelucon ‘doraemon’ di kelas. Saat wanita itu tak kunjung datang juga maka aku akan turun dan tergesa-gesa ke arah tempat wudhu untuk membasuh wajah, tapi wanita itu mengejutkanku lagi. Ia tersenyum padaku. Seperti biasa, pasti efek-efek itu muncul dari setiap aku berpapasan dengannya dan saat dirinya tersenyum hanya untukku. Rasanya tak apa bila tiap hari aku terkejut asalkan karena senyumnya.

Aku benar benar menduga rasa ini sekarang adalah rasa cinta. Ya, aku benar benar jatuh cinta. Tapi sekarang apa yang bisa aku lakukan, aku tak banyak bisa mengambil langkah, apalagi untuk terlalu jauh. Toh aku juga harus salahkan siapa saat rasa ini tiba-tiba hadir, hadir di tengah-tengah kehidupanku yang mungkin sebelumnya bisa sangat datar. Apa aku harus salahkan semua orang termasuk laki-laki itu yang semula berkata ‘ya’ padaku lalu Ia bilang ingin kembali padanya di saat aku mulai merasa ingin menyayangi wanita itu? Ya, ini aku. Aku yang telah menusuknya dari belakang. Coba kau tanyakan ini salah siapa, yak! Tanyakanlah kepada Tuhan yang memberikan rasa ini, coba saja. Terkadang di saat aku merenungkan ini di malam malam itu, aku mulai berfikir ini semua adalah salah laki-laki itu, mengapa Ia berikan aku ruang? Mengapa? Apa karena Ia punya dua hati di dalam dadanya dan mencintai dua orang atau lebih? Apa Ia hanya ingin membuat hati seorang teman hancur? Yak, kurasa pernyataan ini bijak sekali. Aku harus mengambil pilihan, aku harus memilih jalan yang dari hati ini berkata ‘benar’. Ambilah kata-kata ini sebagai kata-katanya lelaki Ray, jangan tarik apa yang telah kau ucapkan. Jika kau yakin teruskanlah, jika kau ragu jauh-jauhlah dari hidupnya, sayangnya aku memang tak akan pernah bisa mundur dari jalan yang terkait ruang dan waktu ini, ya mereka terus berjalan, bukan? Aku yakin cinta itu ada. Aku yakin Tuhan punya maksud tersendiri. Aku yakin Tuhan akan menunjukan yang sebenarnya. Karena aku tahu Dia-lah yang Maha tahu yang terbaik. Sekarang yang harus ku lakukan adalah terus berjalan sambil menunggu keajaiban datang di tengah perjalananku, sampai aku benar benar menemukan apa yang benar benar aku cari. Aku cari di setiap pagi di balik pintu itu, itulah pilihanku.

Si Penjual Cerpen



       
        (Pagi yang seperti biasa)

            “Ky, bangun terlambat ini”, si Ibu menaruh jatah sarapan di atas meja

            “iya iya, Bu”, aku terbangun dan melihat sekeliling kamar.

            (beda lagi dengan Ayahku)
           
“ini duitnya ya, di atas meja” (menaruh di samping sarapan kami dan kembali ke kamarnya bersiap siap kerja)


Ini lah kejadian rutin yang dilakukan keluargaku. Aku Ray, aku kakak tertua dari 4 bersaudara, kami semua laki-laki. Adikku Atha yang terkecil baru 13 bulan minggu lalu. Keluargaku adalah keluarga yang sangat sederhana di perumahan yang ramai. Keluarga kami hanya menggantungkan hidupnya pada seseorang pria penderita diabetes, Ialah Ayahku, Ayahku yang lebih biasa kupanggil Bapak. Ayahku tak pernah lelah menafkahkanku dan adik-adikku. Kami semua bisa tersenyum bangga dengan orang sepertinya, di balik kelelahannya dan diabetes yang mulai menggerogotinya.

Senyum kami akhir-akhir ini sedikit memudar. Pagi-pagi yang biasanya cerah, kini tak seperti dulu lagi. Keributan justru mengotori kesucian kekeluargaan kami.

“sekarang gimana jadinya? Telpon kita yang dicabut atau anak gak ulangan?”

(ibu hanya menunduk dan diam mendengar teriakan itu)

“pak, kita buat surat perjanjian aja sama sekolah, biarin aja telpon yang dibayar duluan”

Sedih sekali mengingat biaya sekolahku yang selangit, kini harus membuat mereka mengencangkan nafas untuk lebih berusaha, ya berusaha sebagaimana mengorbankan tulang-tulang mereka yang mulai rapuh demi sesuap nasi. Maafkan aku Ibu, Ayah. Maafkan aku yang tidak berguna.


Di sekolah, di jalanan, di rumah tak lepas dari fikiran yang menganjil di dada ini. Aku tak tahu harus bagaimana lagi.

“Ray, sekarang sudah jatuh tempo seperti yang sudah ada di surat perjanjian yang lalu”

“iya bu, mungkin 5-10 hari lagi Ayah saya gajian”

“iya ibu tunggu, kalau bisa secepatnya ya nak, atau kalau tidak (dengan nada melembut) kamu tak bisa ikut ulangan”

“iya, bu insyaallah”

Kini yang ada beban di kepalaku ini sudah tak tanggung-tanggung lagi. Kurasa aku menemui jalan buntu. Sungguh sedih melihat Ibu yang terlihat tua dan serba salah karena stress berat, kini rambutnya sebagian sudah mulai memutih, aku sungguh anak yang tak berguna. Tapi yang ibu inginkan dariku hanya belajar sungguh sungguh dan damai tak ada keributan. Ia juga senang kalau anak-anaknya bisa rajin shalat. Mereka selalu berjuang untukku, sebagaimana mereka membesarkanku pada sekolah swasta itu, membesarkan mimpi mimpiku yang ingin pergi ke Jepang. Tapi apa sekarang? Apa yang bisa ku perbuat? Nilai raporku saja belum cukup bisa memuaskan mereka. Hey, aku tak bisa memuaskan mereka hanya dengan nilai rapor yang tujuh, tujuh, tujuh koma, tujuh, dan delapan. Oh tidak, seharusnya mereka lebih banyak memberiku angka delapan agar Ayah dan Ibuku tersenyum kembali, atau sesekali angka 9 agar mereka bangga, ini sungguh tak adil, mereka tak adil. Tidak! Ini semua salahku, ini semua salahku yang tak berguna, seharusnya aku lebih berusaha.


Aku adalah seorang lelaki yang hanya bisa bercerita pada selembar kertas, aku tak tahu lagi kepada siapa harus bercerita kesedihan ini selain kepada Tuhan. Aku juga sudah malu memohon dan selalu memohon pada-Nya. Sekarang aku hanya menunggu sesuatu yang terbaik untukku, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Atau cara lain menutupi kesedihan ini adalah dengan bernyanyi, menyanyikan sebuah lagu dengan gitarku yang sengaja ku ubah nadanya jadi mayor agar terlihat baik-baik saja. Selalu kubawa gitar itu kemana saja aku harus pergi, termasuk di sekolah. Di atas gedung sekolah saat sekolah masih sepi, sesekali aku bernyanyi lagu sedih di nada yang minor, kunyanyikan sampai kelas berakhir lagi dan sepi kembali. Ini selalu kulakukan demi menghindari suasana rumah yang membuatku kembali sedih dan tak tega untuk melihat mereka. Jika aku pulang, aku selalu segera memeriksa ke balik tudung saji, di atas meja makan. Dulu mungkin kami masih bisa membeli nasi, sayur, lauk dan sedikit buah, tapi sekarang himpitan ekonomi mengubah menu makanan kami. Kami hanya makan seadanya saja, dengan nasi-lauk atau terkadang nasi-sayur saja. Sungguh lirih sekali, tapi setidaknya kami-kami ini orang yang masih jauh beruntung dari mereka yang kurang beruntung. Aku seharusnya bersyukur.


Kini Ayahku sering pulang malam, terkadang sampai jam 2 pagi. Mungkin efektifnya Ia bekerja hanya sampai jam 11 malam dan waktu lainnya selalu Ia gunakan untuk istirahat dan membagi ceritanya di tempat rekan kerjanya yang seperti saudara sendiri. Saat pulang ke rumah, hanya raut wajah yang muram yang terlihat, raut wajah yang tak semuda dulu. Aku terkadang kena imbasnya, aku selalu dimarahi jadi pelampiasan client-clientnya yang telat stor dengannya. Ya, Ayahku adalah kolektor yang tak lain adalah tukang tagih. Ia bekerja pada suatu perusahaan kartu kredit besar. Tapi Ayahku bukan seperti yang kalian kira, Ayahku ini bukan lintah darat, Ayah hanya seorang kurir mengantar tanggung jawab besar kepada bank itu, mengantar uang storan clientnya bukanlah seorang renternir. Ayah bahkan mengingatkan clientnya supaya tidak lupa membayar tagihannya, agar mereka tidak mendapat denda. Ayah bekerja dengan tenaga, mulut dan kesabarannya. Terkadang saat Ia menagih di kantor DPRD dan duduk menunggu selama 2 jam, clientnya bisa saja kabur mengkhianatinya. Ya, aku tahu sekali, saat kecil aku sering dibawanya kerja dan selalu ingin cepat cepat pulang. Kasihannya lagi, kami selalu dapat gaji yang kurang, sangat kurang untuk 4 orang anak laki-laki yang hanya menyusahkannya saja. Sekarang yang ada pendapatannya semakin berkurang di tengah harga yang selalu melambung, apalagi biaya sekolah. Oh, tuhan inikah cobaan? Mengapa Ia? Mengapa Ia yang sudah kehilangan sebagian raganya.


Berfikir tentang apa dan bagaimana seseorang bisa bangga dengan dirinya sendiri, bukan sombong, suatu hari seseorang bilang padaku, ‘menulis adalah profesi yang terhormat’. Kemudian aku memanfaatkan kebiasaanku ini, aku mencoba membuat beberapa karya tulis. Terus dan selalu kucoba.

“setelah ini, apa yang bisa diperbuat bu?” (bertanya pada seseorang guru)

“salah satunya kamu bisa kirim ke media, nak”

Ahh, itu dia. Aku mulai berfikir itu adalah titik cerahku. Mungkin dari situ aku bisa mendapatkan uang. Ya, paling tidak untuk bayar hutang sekolah agar sedikit meringankan beban orang tua. Tapi media manapun tak pernah mengkonfirmasi karyaku. Ohh Tuhan beri aku kekuatan untuk selalu mencoba ini, beri aku kekuatan demi sesuap uang yang berharga untukku, hanya dengan menjadi seorang penjual cerpen yang selalu menunggu setiap dering telfon dari pengusaha media, yang mungkin akan jadi jalan keluarnya, jalan keluar yang akan menyelamatkannya dari ketidak-bergunaan.

layang layang (puisi)


Layang layang
Terlihat jelas di balik jendela kamarku
Untuk apa kalian terbang?
Apa kalian punya cinta yang kalian kejar?

Layang layang
Apa rasanya melihat awan dari dekat?
Apa rasanya melihat bumi dari atas?
Aku ingin sekali terbang bersamamu



Layang layang
Apa kau punya sahabat di sana?
Apa kau tak kesepian di atas sana?
Apa yang kau cari saat kau mondar-mandir?

Langit sore, perkenalkan ini layang layang
Temanku di tengah sepi
Temanku di saat galau
Temanku di saat melihatmu di sore hari
Saat merindukan seseorang

Layang layang
Apa kau masih ingat siapa yang menerbangkanmu?
Apa kau tahu mungkin Ia mencintaimu?
Tapi Ia hanya melihatmu dari bawah
Menjaga dirimu agar tak goyah
Sungguh Ia mungkin sayang padamu

Layang layang, jika suatu hari kau pergi
Sampaikanlah salam ini untuknya
Untuknya yang ku cintai, rinduku akan senyumnya itu
Bawalah pergi mimpi-mimpiku, mungkin salam rinduku

Layang layang saat suatu hari kau pergi
Akan kusampaikan kepada siapa yang melayangkanmu
Kepada siapa yang sebenarnya mencintaimu
Bahwa sebenarnya kau pergi karna takdirmu
Karna semuanya memang tak abadi di dunia ini

wroteby Rayvicky on February 20, 2011

laki-laki beruntung (kau)


Dua wanita berjalan sesaat setelah aku keluar memang hanya untuk memandanginya dari atas. Yak, seorang wanita dengan satu teman wanita lainnya. Mereka membawa sekantung kecil makanan di tangannya, terkadang warnanya putih transparan. Wanita itu lalu kemudian berjalan dengan kepala menghadap sisi kanan jalan, ya tentu saja karena Ia bersama dengan temannya dan pasti akan sedikit bercerita sesuatu saat aku bisa sedikit mengerti dari terkaan gesture bibirnya. Jauh saat kau sedang asik dengan mimpi mimpimu itu, lalu mimpi-mimpimu yang indah itu akan hilang dan mengagetkanmu, sesaat perasaan yang kontras datang dan menghadang hatimu. Mungkin bila kau jadi aku di situ, di situasi seperti itu, kau akan banyak menguras energi untuk saat saat yang sulit, yang terlalu labil untuk dirasakan. Parahnya, saat kau benar benar fokus dan memperhatikan jelas bagaimana indahnya Ia tersenyum dan bermain main gerakan tubuh di saat Ia menuju ke arahmu, lalu kau larut dalamnya dan ingin rasanya kau berteriak kepadanya bahwa kau memang suka dirinya dan ingin menyayanginya tapi itu hanya bisa kau lakukan di dalam hatimu, maka matilah kau! Apalagi saat kau tahu sesuatu, misalnya; kau tahu apa yang sebenarnya wanita dan temannya ini bicarakan dari gesture tubuhnya dan fokus matanya ke arah mana, kepada arah yang misterius? maka kau juga turut mencari arah misterius itu dan membanting semua mimpimu karena kau tercaci-maki oleh malumu sendiri bahwa sebenarnya wanita itu memandangi seorang yang sedang hangat untuk mereka berdua bicarakan dan tentu saja bukan kau. Kau masih saja mengintip dan mereka berdua makin membuka fikiranmu siapa yang sebenarnya mereka lihat dari bawah itu, lalu sambil panas kau menerka satu di antara segerombolan laki-laki, sebagian lagi senior yang berada pada titik fokus wanita-mu itu, yak lalu aku menunjuk satu dan mungkin kau juga akan menunjuk yang tengah, Ia yang paling tampan dan kontras dariku. Saat seperti itu galau kembali datang dan kembali memasrahkan dirimu pada semesta hanya untuk kembali sekedar mengingat siapa kau sebenarnya. Sudahlah Ray teguhkan kata katamu kemarin dan kau akan menyayanginya dengan penuh perjuangan, lengkap setelah itu kau pasti akan tersenyum membaca ceritanya kembali Ray. Yak lalu tak lama itu aku berpapasan dengannya dan sedikit berkata kosong, atau terkadang tak sanggup berkata apa-apa, sial, bibirku kelu sekali rasanya.



Aku kembali melihat dalam hatiku dan mencari apakah di sini masih ada cinta, ternyata masih utuh seperti sejak pertama kurasa dan sebagian dari rasanya mulai memadat. Sesaat kau mungkin bisa mengambil keputusan bijak dan agak sedikit dewasa. Perasaan ini bagiku bukan rasa yang biasa, pastinya akan ikut kemana aku akan melangkah dalam hidupku, yak lalu jalani saja hidupmu ini Ray seperti air yang akan mengalir sampai ke hulu, hulu mana? Tiap kali kau memandang langit sore, di sana kau akan teringat seberapa manisnya pagi ini di saat Ia menyentuhmu untuk pertama kali meski hanya dengan telunjuk jari, dan memanggilmu hanya untuk kepentingan yang sebenarnya kurang penting untuk diseriuskan. Lalu sebagian dari dalam jiwamu mengalami euforia dengan gejala badan kaku dan gemetaran, lidah kelu, bibirmu labil, lalu kau bertingkah seolah olah kau sedang gila dengan keringat dingin mengalir dari kening sampai leher. Sesaat setelah kejadian pagi ini kau akan berjalan dengan tatapan kosong sambil senyum-senyum sendiri dan lebih banyak melamun ketimbang urusan kerjaanmu sendiri. Kau akan memandang hidup ini transparan dan hanya ada dirinya di balik bayangan itu, itu fokusmu! Kau hanya terpaku pada wanita ini dan melupakan hal lainnya. Begitu pula saat senja kembali datang, di mana langkahmu menuju jalan pulang dan di atasnya ada langit jingga lagi dengan perasaan yang sama, kau akan kembali terbawa kepada kejadian apa yang mengesankan pada hari ini dan berkata “menyebutkan namanya, bahwa aku ingin membelai rambutmu lagi seperti di dalam mimpi”. Kembali di setiap paginya kau mendapat hal-hal semacam itu, maka di sore hari lagi kau akan jadi seperti sore sore biasanya dengan efek langit langit jingga itu, waktu dimana sore hari tak secerah sore sore lainnya karna ada bayangan tentang mengapa kau dilahirkan di dunia dan bisa bertemu dengannya.


Kemungkinan untuk melihat terjadinya wanita dengan temannya ini berjalan menyusuri lapangan sekolah bisa sampai 60 kali perminggu, tapi mungkin peluang melihat kejadian wanita dengan temannya bertemu dengan segerombolan anak senior hanya 5 kali perminggu atau 18-21 kali yang tak kulihat dengan mata sendiri. Aku tak seberapa mengerti mengapa langkahku ini mengarah kepada hal yang tak penting untuk dilakukan. Mungkin insting. Instingnya orang-orang yang berada pada titik kecemburuan dalam hidupnyalah, mungkin kadarnya bisa sampai batas normalnya. Caranya, kau bisa berada pada titik tengah lintasan 2 kelompok ini saat berpapasan dan melihat seberapa jelas dari setiap kejadiannya wanita ini berurusan dengan siapa sebenarnya dalam aksinya selama ini. Ya, kau akan sedikit menguntit lagi. Semakin banyak kau menghadapi kejadian seperti ini yang mungkin akan tak mengenakan bagimu, maka akan semakin jelas apa yang ingin kau dapatkan dari rencanamu ini. Atau ini bukan rencana, bukan rencana yang ber-tujuan lebih tepatnya. Mungkin kau tidak akan pernah tahu bagaimana inisial nama atau nama panggilan bisa menuntunmu pergi dari penasaranmu, ya pastinya! sebelum kau punya program sendiri dari tak tik dan ‘rencanamu’ tadi ini. Setelah itu, dari kemungkinan yang tadinya besar, kini kau hanya punya satu nama. Nama pria dengan kepribadian yang belum kau ketahui, tapi kau bisa telusuri dengan jalan lain. Kau akan iri setengah mati dengan pria itu yang kau fikir Ia pria yang paling beruntung bisa disukai hati wanitamu. Iri sampai kau punya mimpi yang hanya melayang dan tidak akan pernah kau tarik ulur dan kau biarkan saja terus mengambang di udara. Maka saat itu kau akan lemah dibanjiri fikiran-fikiran negatif dan melunturkan semangatmu, lalu kau akan seperti aku. Seperti aku yang kini tak tahu lagi harus melangkah seperti apa, bahkan aku sudah tak punya langkah lagi selain menyakiti orang lain saat aku melangkah, menusuknya dari belakang. Fikiranmu nyaris terfokuskan seluruhnya pada satu masalah ini sampai kau tak bisa berfikir lagi untuk tertawa dan mentertawai hal konyol yang terkadang dalam pribadi biasamu bisa membuatmu teronta-ronta, tapi sekarang diam tanpa ampun, atau hanya senyum palsu.


Aku ingin menjadi kau lelaki beruntung. Sungguh ingin sekali rasanya hingga menangis aku dalam doa ini. Aku ingin sepertimu dan membalas senyumnya saat Ia tersenyum padamu. Apakah kau tak tertegun menatap senyumnya yang lucu? Aku ingin menegurnya dengan jelas saat Ia tak berani menegurmu dengan keras dan kau asik bermain basket di tengah lapangan. Aku akan menghampirinya di saat Ia mulai resah menunggumu dan berfikir kosong. Apa kau tidak iba? Aku akan menggengam tangannya saat Ia mulai merasa hari ini dingin tak ada kehangatan darimu. Aku akan memikirkannya saat Ia dengan jelas memikirkanmu dalam mimpinya. Apa ini tak terfikirkan olehmu? Aku akan membasuh air matanya di saat Ia mulai merindukan seseorang dan memeluknya dengan rasa sayang. Aku akan memainkan lagu di saat Ia mulai bernyanyi untuk hari ini. Sungguh aku ingin menyayanginya seperti Ia menyayangi dirimu laki laki beruntung. Sungguh kau laki laki beruntung sejagat ini. Andai aku terlahir dari mimpi bodoh untuk menjadi dirimu, mungkin akulah laki-laki beruntung itu dan .... Cukup! Sudah, cukup ini semua Ray. Kau buang sia sia katamu itu, lebih baik kau simpan saja untuk merajut apa yang ada di matamu. Tidak kah kau tahu Ray semua orang itu terlahir beruntung? Tidakkah kau tahu semua orang tak pernah sial? Tidakkah kau tahu bahwa laki laki beruntung itu ada di depan matamu Ray, yak! Itu kau Ray. Kau lah laki-laki beruntung itu, kau yang beruntung bagaimana harimu kini di isi dengan cintanya, kau beruntung seperti bagaimana Tuhan mempertemukanmu dengannya. Kaulah yang beruntung itu Ray. Sungguh teguhkan kata ini “kau beruntung bisa mencintainya Ray”. Kau merasakan bagaimana beratnya perjuangan untuk sebuah cinta darinya, maka kau akan benar benar merindukannya saat Ia benar benar pergi. Kau akan merasakan perihnya saat Ia meninggalkanmu pergi untuk sementara. Kau akan merindukannya di jam malam saat kau tak ingat wajahnya. Kau akan merasa dirimu benar benar ingin menangis saat kau fikir Ia sedang bersedih. Mungkin kau akan menyesal saat kau berkata tidak dan ingin melupakannya. Kau akan merubah dirimu di saat kau merasa tak berguna apa apa untuknya. Kau akan mengambil kunci motormu dan merapatkan jaketmu saat berfikir kau akan tiba di rumahnya dan ingin memeluknya. Kau akan merasakan dengan jelas pribadimu sebagai lelaki kini menteskan air mata yang bukan sia sia untuk kau tangisi. Kau akan bahagia Ray merasakan cinta ini mengalir untuknya, mengalir dari setiap lembut nadimu, mengalir bersama irama nada lagu-lagu itu. Sungguh kau lah laki-laki beruntung itu Ray, beruntung karena mencintainya. Maka tersenyumlah Ray untuk ceritamu selanjutnya.

Visitor Hit